Skip to main content

Katanya Lomba, Kok Wajib Beli Buku?

Katanya Lomba, Kok Wajib Beli Buku? - Empat tahun menyalurkan hobi dengan menulis online di berbagai Platform kepenulisan, membuat saya ingin mengembangkan kemampuan dalam hal tulis menulis. Dan tidak munafik, sih … saya juga pengin dapat penghasilan dari hobi menulis ini. 

Katanya Lomba, Kok Wajib Beli Buku?

Ada yang bilang, “From hobby to money, why not?” Tentu kalimat tersebut adalah bentuk motivasi awal saya. Berkat keinginan untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah dari hobi menulis, saya mulai berselancar di Facebook dan menambah pertemanan (Add Friend) dari kalangan beberapa Publisher. Entah itu Publisher resmi, atau Publisher yang baru merintis, saya tidak tahu.

Dari sana saya mulai mengamati beberapa postingan status mereka. Dan dari sekian banyak status-status tersebut, banyak sekali yang isinya mengadakan lomba, baik menulis Quote, puisi, atau pun cerpen dengan tema serta syarat dan ketentuan yang mereka cantumkan dalam status maupun Banner lomba yang mereka buat.


Ini Lomba, Apa Bisnis Cetak Buku?

Saya tercengang melihatnya, Pemirsa!

Bagaimana tidak, rata-rata syarat dari lomba tersebut adalah ‘wajib membeli buku hasil lomba minimal 1 eksampler’.

Nah, lo! Menurut saya, tidak masuk akal saja. Masa’ lomba menulis wajib beli hasil tulisan dari semua peserta lomba? Sedangkan tulisan kita hanya nyempil satu judul di antara tumpukan puluhan lembar buku tersebut. Okelah dengan adanya tulisan ‘Gratis’, tapi dengan membeli buku, bukankah itu juga termasuk ‘bayar’?

Pernah juga saya melihat salah satu akun berkomentar tentang keberatannya dalam wajibnya beli buku ini. Si penanggung jawab lomba tersebut langsung mengomentari dengan berbagai argumennya, diantaranya ; Dengan membeli buku, kita mempunyai kenang-kenangan dan bukti nyata tulisan kita, mencetak buku dan pengurusan ISBN itu harus bayar. Mereka juga mengingatkan jika mau menjadi penulis, setidaknya dukung penulis lain untuk membeli bukunya.


Lomba ya Lomba. Nubar ya Nubar

Oke … oke … alasan mereka semua benar. Namun, tetap saja mengganjal di hati saya. Kenapa? Karena mereka mengatasnamakan ‘lomba’. Beda lagi jika mereka menamainya dengan ‘Event atau nubar (Nulis Bareng)’. Nah, ini berarti sudah jelas, memang niatnya saling nulis bareng, dibukuin bareng, dan hasil tulisannya dipeluk bareng-bareng.

“Antara lomba dan nubar, apa bedanya, Mbak?”

Ya jelas beda, lha. Yang namanya lomba ya seharusnnya ada yang menang, ada yang kalah. Kalau semua karya lomba dibukukan, letak kemenangannya di mana?

“Kan ada piala dan E-Sertifikat?”

Bukannya semua juga dapat? Heheheheee ….

Beda lagi, lho, ya, yang mengatasnamakan lomba dan mencantumkan hadiah bagi pemenang, semisal juara 1, 2, 3 mendapat uang tunai sebesar sekian ribu rupiah. Nah, itu memang sebenar-benarnya lomba.

Pernah juga saya iseng bertanya, “Mohon maaf, harga perbukunya berapa, Kak?”

Dan mereka jawab apa, Pemirsa?

“Kami belum tahu, Kak. Soalnya buku belum tercetak. Dan kami juga belum tahu berapa banyak peserta yang ikut lomba nanti.”

Saya pun tertawa geleng-geleng. Lha ini kalau saya ikut lomba dan harga bukunya cukup wow bagai kantong saya, bagaimana? Sedangkan tulisan saya cuma numpang satu judul. Belum lagi kalau saya mengikuti beberapa lomba yang diadakan oleh penerbit yang berbeda.

Hallooo … apa kabar isi dompet? Alih-alih mendalami dunia tulis dan ingin dapat duit, eeeh malah tekor.


Apa Saya Melarang Anda untuk Ikut Lomba Menulis yang Seperti ini?

Saya sama sekali tidak ‘menggandoli’ atau mencegah kalian para calon penulis untuk ikut lomba semacam ini. Bukan pula anti dengan penerbit yang mengadakan lomba dengan sistem seperti ini. Tapi alangkah baiknya, gantilah label ‘lomba’ tadi dengan ‘nubar/event’ yang harga bukunya juga jelas. Kalau memang tetap atas nama ‘lomba’, berilah hadiah yang nyata pada para juara yang terpilih.

Kenapa? Tentu agar tidak terjadi penyesalan dan ‘penggrundelan’ bagi penulis di kemudian hari. Semua penulis ingin karyanya dibukukan, termasuk saya. Tidak kalian wajibkan pun, mereka juga ingin memeluk hasil karyanya sendiri. Namun, tidak semua penulis pemula mempunyai uang lebih untuk membeli buku, bahkan untuk hasil tulisannya sendiri.

Ada lagi, nih, persyarakan yang kadang bikin saya mikir, yaitu memfollow beberapa akun dari para panitia lomba. Tidak masalah jika yang di-follow tersebut adalah akun publisher atau perusahaan penyelenggara. Lha ini kadang ada beberapa nama akun personal yang harus di-follow. Saya jadi bertanya-tanya, itu sebenarnya lomba apa parade nyari follower?


Literasi Oooh Literasi

Jika perlombaan dengan sistem yang seperti ini terus berjalan dan laris manis karena banyaknya pemula yang ingin punya buku meski sekadar antalogi, lalu bagaimana dengan nasib dan perbaikan literasi di Indonesia ini? Lha wong semua karya dibukukan? Berarti nggak ada seleksi dong di sini. 

Oke, tidak masalah jika memang ada editor andal yang berperan di sini. Namun, jika editornya hanya embel-embel editor dan kerjanya cuma nampung naskah alias makelar naskah, bagaimana, dong? Mau di bawa ke mana literasi Indonesia? Pak Ivan lanin pasti nangis melihat ini. Hahahaaa  ….


Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar
-->